Catatanku Tentang Ayahanda Badar Mahmud

0
199

Bulan ini adalah bulan yang cukup terkenang dengan kehidupan diriku beserta keluaga besarku, khususnya untuk anak-anak dari Ayahanda tercinta Badar Mahmud. Yach, ini memang blog pribadi kawan, tentunya kang fao berhak menulis apapun yang berkesan, tantang sesuatu yang diri ini rasakan, kang fao rindukan tentang keluh kesah kehidupan entah suka atau duka.

Setiap tahun diri ini ketika sudah memasuki bulan mei, maka dalam hati “deg“. Terkenang dengan cerita sedih dengan proses meninggalnya ayahanda tercinta. Kala itu di hari rabu setelah magrib 13 Mei 2004. Kira-kira peristiwa yang membuat hati ini tergidik ketika ingat memandikan jenazah beliau.

Kisah ini di awali saat iku aku masih duduk di bangku kuliah di salah satu Universitas Negeri Jember. Tak biasa, di asrama tempat aku kost jam 9 an malam, ada telpon berdering mencari aku, ternyata ada telpon dari adikku Yuni, bak di sambar petir, “Mas Istirjak, Innalilahi Wainna Ilaihi Rojiun, Bapak Meninggal Dunia Karena Kecelakaan”! Isak tangis adikku dari seberang. Tak kuasa diri ini untuk menahan air mata yang keluar dari mata ini.

Pantesan tadi, ketika musyawarah rutin penghuni asrama setelah isya’, saya gusar dan risaunya minta ampun. Ada sesuatu yang membuat hati ini super sedih, namun tak pernah mengerti ada kesedihan apa. Ternyata, memang diri ini hanya manusia biasa, cuman di kasih kode-kode alam dengan hati sedih tanpa sebab, ternyata ini adalah ikatan emosional seorang anak terhadap bapaknya ketika meninggal. Mungkin saat crash itu terjadi, seakan hati ini ini di aduk-aduk sedih tanpa sebab.

Sontak saat itu saya langsung menghubungi Mas dan Mbak saya yang ada di Jakarta via sms. “Mas, Istirjak….Innalilahi Wa Inna Ilaihi Rojiun…Bapak meninggal dunia karena kecelakaan”. Hanya itu yang bisa saya lakukan untuk mengabari sanak saudara dengan meninggalnya bapak.

Malam itu juga, saya langsung berkemas untuk pulang ke rumah Jajag-Banyuwangi. Dengan hati yang seakan mimpi, dan tentunya tak bisa menahan tetesan air mata saat naik bis sepanjang perjalanan Jember hingga Jajag, “Bapak, begitu cepatkan engkau pergi, diri ini belum sanggup untuk hidup sendirian tanpa bimbingan dan nasehatmu!. Hanya engkaulah saat ini sosok yang mempu membuat diri ini lebih tegar dan bersemangat”. Belum banyak anakmu ini membalas pengorbananmu terhadapku. Apalagi sebentar lagi saya akan di Wisuda, tentunya engkaulah orang yang pertama kali bangga dengan kelulusan anakmu ini.

tes..tes..tes…! Sepanjang jalan terus saja mata ini mengalir tanpa bisa di tahan….

Kisaran jam 11 Malam, ada mobil Ambulan jenazah meraung-raung menuju rumah. Ini pertanda bahwa jenazah bapak sudah di bawa pulang dari Rumah Sakit Al Huda. Rumah sakit di mana bapak berusaha di selamatkan ketika terserempet Truck malam gerimis itu. “Ya..Alloh…Bapak! Engkau memang betul-betul meninggalkan anakmu ini, meninggalkan kami yang memang belum dewasa betul dalam mengarungi kehidupan ini!” Bathinku. Aku masih butuh bimbingan dan kasih sayangmu.

Kegemaranmu Bercerita Dengan Anak-Anak Cerita Tentang Nabi Sulaiman

Satu hal yang anakmu terkenang adalah ketika malam sebelum tidur, meskipun aku ini sudah besar, saat itu pun aku sudah duduk di bangku SMA, namun ketika engkau sudah bercerita untuk adik-adiku Yuni, Diyol, mendongeng kisah nabi Sulaiman dengan burung pelatuk, maka diri ini akan selalu terpingkal-pingkal dengan tingkah lucumu ayah. Selalu engkau suarakan dengan “Tuk-Ketuk-Took-Toook,Tuk-Ketuk-tuk-took-toook“. Masih terkenang dengan kuat di kepalaku, meskipun kau ulang-ulang cerita itu, kami setiap malam tak pernah bosan untuk tertawa dengan ulah kocolmu menirukan suara burung pelatuk saat berbicara dengan nabi Sulaiman. Pokoknya, kalo sudah engkau bercerita dengan Nabi Sulaiman, atau cerita lainnya semisal Kancil dan Pak Tani, seakan ini adalah malam yang indah dan paling bahagia. Menurut kami, ini adalah malam paling bahagianya untuk ukuran orang kampung seperti kami.

Kegemaranmu Dengan Minum Kopi Yang Tak Pernah Bisa Di Tinggalkan

Kalau sudah ngomong tentang minum kopi, bapaklah jagonya. Gimana enggak jago minum kopi, lah pagi sebelum berangkat dagang ke pasar, selalu emak membuatkan secangkir kopi. Ketika sudah sampai pasar, barang dagangan belum di gelar, bapak sudah menyempatkan untuk pesan ke warung sebelah untuk pesan secangkir kopi. Tak hanya itu, ketika sore hari saat engkau di sibukkan untuk menderes hadist, membaca kitab-kitab pengajian yang engkau punya, bapak juga tak lepas dari minuman kopi. Seakan hidup tak sempurna ketika tiada hari tanpa minum kopi.

Betapa cintanya engkau dengan kopi, bahkan tegal dan kebun yang engkau punya, engkau tanami kopi sendiri, engkau pilih bibit kopi terbaik menurutmu, lalu engkau rawat-rawat sendiri, engkau petik-petik sendiri. Nanti tinggal emak yang menggoreng untuk stok kopi 2 mingguan. Bahkan, demi sebuah kopi engkau pun sempat terjatuh dari pohon kopi, tak bisa berdagang ke pasar hingga satu bulan lantaran memetik kopi dengan ondo lanang (tangga 1 batang bambu yang di lubangi untuk di jadikan tangga memetik kopi) kebanggaanmu .

Pesan Terhadap Anak-Anakmu Untuk Selalu Membanca Surat Al-Waqiah Setiap Malam

Yang tak lupa dari ingatanku hari ini, engkau selalu berpesan dengan anak-anakmu,”Bacalah Surat Al Waqiah Setiap Malam, Karena Barang Siapa Yang Membaca Surat Al Waqiah Setiap Malam Tak Akan Menimpa Kemlaratan Selamanya”.

Pesan ini bukan saja engkau pesankan untuk anak-anakmu, namun sering juga engkau nasehatkan ketika mengisi di sebuah acara pengajian, untuk tetangga kiri kanan yang juga ikut dalam pengajian tersebut. Terima Kasih bapak, engkau berikan sesuatu ilmu yang kecil namun cukup memberi manfaat dengan kehidupan ini. Kerasnya kehidupan dalam mencari maisyah di dunia, selain kewajiban berusaha, namun ada amalan sederhana engkau pesan untuk anak-anakmu, bacalah surat Al Waqiah, Insak Allah akan di beri jalan dan kemudahan.

Selalu Mengajarkan Hidup Zuhud Dengan Anak-Anaknya

Pernah cerita dari salah satu Mbakku,”Pak, belikan aku baju baru ya, masak anak-anak tetangga bajunya baru-baru, aku tidak bapak belikan baju!”. Mungkin itulah salah satu renge’kan dan rayuan mbakku saat ingin di belikan baju baru. Namun apa jawab bapak, “Nur-nur lha wong baju bapakmu ini saya pakai juga masih bagus, pokoknya di pakai masih pantas, kenapa harus beli yang baru?”. Salah satu jawaban sederhana seorang bapak dengan anak-anaknya untuk hidup berhemat. Tentunya, Insak Allah saat itu ketika seorang bapak di sambati anaknya ingin membeli baju baru, sebetulnya bisa-bisa saja membelikan saat itu juga. Namun tidak demikian dengan bapak, selalu ada penundaan dan tak harus selalu di turuti. Karena, ingin anak-anaknya tidak bermewah-mewahan dalam berpakaian, sederhana namun bersahaja.

Lho kok tahu? Yach….semua ini bisa saya fikir dan angan-angan ketika sudah berkeluarga ini, hidup sederhana dan zuhud adalah bentuk kesederhanaan yang pernah di ajarkan nabi. Silahkan mencari harta dunia sebanyak-banyaknya, namun jangan lupa untuk selalu hidup zuhud.

Tekadku Untukmu Selalu Mendoakanmu Sebagai Salah Satu Bentuk “Waladan Solihan

Bulan Mei Tahun 2017 ini adalah tahun ke 13 engkau meninggalkan kami,  tentunya rasa sedih masih saja menyelimuti kami, di saat kami ada acara-acara penting, ada acara-acara yang bercerita tentang prestasi anak-anak engkau, dengan lucunya cucu-cucumu, tentu yang selalu terlintas di fikiranku, betapa bahagianya ketika engkau bisa menyaksikan ini semua. Namun karena Qodar sudah bercerita lain, kami sebagai anak-anakmu Insak Allah tak akan pernah lupa untuk mendoakanmu sebagai wujud pendidikanmu selama ini kepada kami.

“Ada 3 Amalan Anak Adam Yang Tak Pernah Putus Pahalanya Ketika Sudah Meninggal Dunia, Salah Satunya Adalah Waladan Solihan Yad’ulah“. Bapak terimalah doa kami dan saudara-saudara kami ketika engkau sudah tenang di sana. Semoga kami bisa terus dan istikomah mendoakanmu, hanya ini yang bisa kami lakukan untukmu ketika tak bisa membalas langsung pengabdian dan pengorbananmu.

Jombang, Akhir Mei 2017.

Anak Yang Selalu Merindukanmu…..

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY