Kang Fao hari ini mendapatkan kesempatan untuk membantu mengajar anak-anak selepas magrib di pengajian masjid dekat rumah. Kebetulan yang biasanya mengajar lagi berhalangan. Sehingga Kang Fao harus turun gunung untuk membantu mengajar anak-anak yang masih usia-usia remaja tersebut. Hemm…ternyata asik juga ngajar mengaji anak-anak remaja. Mereka punya keinginan yang antusias mencari ilmu dalam usia yang masih belia.

So, apa sih materi yang di berikan kepada mereka? Ya..ya..sebetulnya materi yang diajarkan kepada anak-anak masih seputar doa sehari-hari. Yach, sebuah doa yang di situ ada dalam salah satu kitab kecil yang sudah di rangkum dalam “Kitabu Sholah“, kitab rangkuman dasar yang berisi tentang amalan sholat wajib beserta pernak-perniknya. Jika Anda penasaran dengan suasana pengajian, inilah penampakannya..heheh

Pengajian Remaja Sehabis Magrib
Pengajian Remaja Sehabis Magrib

Jadi ini adalah salah satu potret pengajian yang ada di masjid dekat rumah Kang Fao. Inilah remaja-remaja calon penerus generasi bangsa yang nantinya akan diharapkan menjadi generasi yang faqih dan faham dengan agama. Cukup unik dan asik bukan pengajian remaja di masjid dekat rumah kami.

Kembali lagi pada materi yang diajarkan kepada anak-anak remaja dekat masjid kami yaitu tentang doa yang di baca ketika duduk Tasyahud akhir dan di lantunkan sebelum salam. So, mana sih hadistnya? Inilah materi hadist yang Kang Fao ajarkan ketika pengajian habis magrib tersebut.

Hadist Doa Tasahud Akhir Seleum Salam
Hadist Doa Tasahud Akhir Sebeum Salam

Hadist ini ada dalam kitab aslinya Sunan An Nasai. Dalam hadist ini di ceritakan dari Urwah yang mendapatkan hadist dari Isteri Nabi Aisyah R.A yaitu menceritakan bahwa Nabi Muhammad S.A.W dalam sholatnya membaca Doa yang isinya seperti di bawah ini.

Doa Minta Di Jauhkan Dari Keberatan Hutang

Inilah hal  yang cukup penting kita fahami bahwa Nabi Muhammad sendiri di tanya oleh sahabatnya, “Kenapa Ya Rasullullah engkau meminta perlindungan dari berhutang?” Nabi dengan tegas menjawab bahwa seseorang yang mempunyai hutang ketika bercerita sering dustanya dan ketika berjanji sering mengingkarinya.

Sebuah keadaan yang bertolak belakang dengan kebanyakan (tidak semua sih), manusia-manusia modern yang menjadikan sebuah kebanggan dan gaya hidup perilaku suka berhutang ini. Bahkan ada dalam satu sebuah seminar yang menggalakkan tentang hutang. Jika usaha ingin cepat sukses supaya berani berhutang. Hemm…sebetulnya Kang Fao tidak mempermasalahkan hutangnya, namun jika kita sebagai warga muslim yang sejati, orang Islam yang tulen idealnya adalah menghindari hutang yang berbau riba.

Tentunya ajakan nabi untuk mengajak umatnya untuk berdoa dari keberatan hutang ini adalah bukan tanpa alasan, karena hari ini hampir bisa dipastikan kebanyakan dari kita masih suka dengan yang nyrempet-nyrempet dengan yang berbau hutang riba. So, riba sangat jahat sekali untuk di kerjakan, karena hutang yang sifatnya bukan untung menguntungkan, namun ada unsur saling menganiaya dengan saudaranya. Cerita dalam kitab Sunan An Nasai ini berbanding lurus dengan apa yang sering di dengang-dengungkan dengan salah satu pejuang riba Indonesia yang cukup berani berteriak dengan lantang tentang bahaya riba dan antek-anteknya, Saptuari Sugiharto. Inilah salah satu buku yang cukup berkesan bagi Kang Fao dalam memerangi riba sampai akar-akarnya, Kembali Ke Titik Nol.

doa-minta-di-jauhkan-dari-hutang

Dalam buku tersebut salah satu yang sering di tekankan adalah pekerjaan yang paling berat sedunia adalah membayar hutang. Ya.ya..ini pengalaman rata-rata hampir sama dimana-mana. Jika hutang yang kita inginkan cair pastinya senang minta ampun, dan uang instant ini kita anggap sebagai solusi top cer menyelesaikan masalah keuangan kita. Namun ketika harus membayar, tentunya terasa beraaaaat banget, ada yang berani kabur, ada yang berani untuk ingkar janji dan bahkan ada yang berani menghilang tak muncul batang hidungnya karena takut di tagih dengan hutangnya. Kalo perlu lari tembus ke dasar bumi hahah Wuzzzz!!

Saptuari Sugiharto menceritakan salah satu kisahnya adalah ketika saat itu ibunya masih berjualan di pasar traditional Jogja. Ibunya saat itu ketika hendak menghentikan berjualan di pasar diatanya, ibu apakah masih punya hutang di pedagang-pedagang lain? Ibu Saptuari mengeluarkan catatan kecil yang dilipat dengan berbagai rincian kecil-kecil semisal Hutang pada mbk Juni: Tepung 54.000, kemudian hutang pada Mbk Rukinah: Kacang senilai 35.000, hutang kepada Pak Basori: Gula senilai 26.ooo. Sehingga ketikan di total jumlahnya mencapai Rp.326.000. Hari itu juga Saptuari mengatar ibunya untuk melunasi hutang-hutangnya yang masih nyantol kepada padagang-pedagang kenalannya. Setelah selesai, semua hutang-hutang tersebut di coreti semua dengan lunas.

“Alhamdulilah….ibu sudah tak punya hutang kepada siapa-siapa” dan berucap bahagia itu sederhana, Tidak punya hutang! Heheh.

Satu lagi yang tak bisa di pungkiri, Hutang yang tak terbayar adalah pemutus tali pertemanan dan tali silaturahmi yang paling ces pleng! Bayangkan diri Anda sendiri ketika mempunyai kawan ketika hutang pada Anda. Kita bisa banyak kehilangan kawan sejati hanya gara-gara hutang. Persaudaraan kita adik-beradik bisa rusak hanya gara-gara urusan sepele hutang pihutang. Anda yang meminjami, Anda pula yang di jauhi.He..he.. Pokoknya hanya gara-gara hutang akan memberikan dampak berantai yang tidak mengenakkan deh!

So, Hutang Itu Di Bawa Mati…!

Yach, betul sekali hutang serupiah atau dua rupiah memang akan di bawa mati. Tentunya bukan hal yang aneh ketika ada jenazah mau di semayamkan, sang ustad sebelum mendoakan selalu bertanya kepada para pelayat, jika ada sangkutan hutang pihutang dengan jenasah supaya di selesaikan setelah pemakaman dan jika di ikhlaskan, maka sang ustad mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Bahkan ada salah satu riwayat lain dari Salamah Bin Al Akwa R.A: Nabi pernah tidak mau mensholati salah satu sahabat yang meninggal dunia hanya gara-gara masih punya hutang 3 Dinar, hingga ada sahabat lain yang berani menjamin untuk melunasi hutang 3 Dinar tersebut. Jika ada, maka nabi baru mau melakukan sholat jenazah untuk sahabat tersebut (Lihat hadist Bukhori no.2289).

Ya..ya..sebetulnya dalam Islam itu cukup mudah dan memudahkan. Hutang dalam Islam itu boleh-boleh saja asal dengan satu syarat diniatkan untuk dilunasi. Yang tidak boleh adalah ingkar untuk tidak melunasi hutang tersebut. Niatkan untuk berdoa kepada Alloh, niscaya akan di tolong untuk melunasinya.

Hemm… tulisannya jadi kemana-mana kawan! Tentunya sekian dulu tulisan Kang Fao hari ini tentang sharing dengan doa terbebas dari hutang yang diajarkan Nabi kepada kita untuk tidak keberatan hutang, juah dari fitnah kehidupan hidup dan mati. Jika ada kurang yang berkenan dalam tulisan ini, Kang Fao minta maaf yang sebesar-besarnya. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk Anda.

“Rumah Mungil Jombang…29 Nov 2016”

Kang Fao

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY