Kenapa Melakukan Kemunafikan Dengan Diri Kita Sendiri?

0
79

Munafik, No Way Bro!!!

Tampil Opo Eneke, Ora Neko-Neko (Apa adanya dan tidak aneh-aneh) adalah pilihan yang paling aman dalam kehidupan. Tak semua orang suka, ya…ya.tentunya dengan kita menjalani kehidupan apa adanya akan terbuka aib dan keburukan kita, akan muncul apa aslinya diri kita, namun menurut Kang Fao ini lebih baik ketimbang menjadi orang munafik. Kebanyakan polesan, kebanyakan sesuatu yang di tutup-tutupi, sehingga kita akan menjadi malu ketika ada sisi yang paling lemah di ketahui oleh orang lain. Tentunya ketika kita bersikap dengan cara sok bijak, suka mengajarkan kebaikan, cinta kasih dan mempunyai standart Akhlaq yang tinggi, …….padahal kenyataannya semua di lakukan adalah kepalsuan belaka. Tentunya, sebetulnya kehidupan adalah sebuah pilihan, jangan pernah kita mengikuti jejak yang kurang baik ini.

Diperlukan Sikap Pro Aktif dan Istikomah Dalam Menata Diri

Jika kita mengamati setiap hari dengan kehidupan kita, coba perhatikan pria dan wanita. Ketika sehabis mandi, selalu melakukan ngaca. Yach, kadar untuk setiap orang memang beda-beda, namun bisa di tarik kesimpulan sederhana untuk yang pria biasanya cukup satu dua menit melihat efek setelah mandi tambah ganteng atau kagak. Sedangkan wanita mungkin di butuhkan bermenit-menit untuk menjadi sempurna, khususnya dalam sebuah penampilan.

Berkaca seperti ini memang cukup penting, karena memang untuk melihat diri kita secara utuh, khususnya dalam hal fisik kita. Namun adalah hal yang tak kalah penting adalah lebih menata sikap, menata tutur kata, menata kelembutan dalam berbicara, serta menjaga keharmonisan ketika kita berada. Ini enak banget di omong, namun untuk di praktekkan ketika kita tidak berlatih akan sulit.

Ketika kita sudah pernah terlabeli dengan sikap yang kurang menyenangkan, arogan, kasar dan mungkin mau menang sendiri. Maka untuk merubahnya bukan hal yang sederhana. Ini yang cukup sulit, karena ketika kita hendak merubahnya, orang akan sedikit lebih antipati, karena memang terkesan kita mempunyai sikap-sikap yang kurang positif tersebut.

Idealnya memang kita jangan hanya fokus dengan “Love at the first sight“:”jatuh cinta pada pandangan pertama”, memang ini yang cukup menentukan penilaian awal dengan orang terhadap diri kita, kita bisa berkesa negatif atau positif dengan penilaian orang lain. Ya..ya..sebetulnya hal sederhana yang orang lebih di sukai ketika bergaul adalah:
1. Orang yang paham dan mengerti menghargai orang lain
2. Mengerti dengan benar arti tenggang rasa

Ketika berurusan dengan orang lain, cara serta sikap bahasa tubuh yang di tampilkan, tutur kata, mempunyai kesombongan menganggap lawan bicara kita lebih rendah dari kita. Ini sikap yang selalu positif memang tak mudah di bentuk pada diri kita, yang jelas terus berlatih untuk mengendalikan diri kita sendiri. Semuanya memang tak semudah membalikkan telapak tangan.

Sikap yang paling di sukai oleh semua orang adalah selalu ingin:

  1. Untuk di dengarkan
  2. Untuk di maafkan
  3. Untuk selalu di layani
  4. Suka jika di pahami
  5. Senang jika di nomor satukan
  6. Menjadi pusat perhatian
  7. Suka dilayani
  8. Merasa di hormati
  9. Sebuah keputusan adil jika menguntungkan diri kita

Ketika kita mau jujur, memang sikap yang paling alamiah dari manusia adalah suka dengan berat sebelah, suka memihak ketika mengambil sebuah keputusan yang idealnya membutuhkan keadilan, tidak memilih suku, latar belakang pendidikan maupun latar sosialnya. Adil memang menurut kita harusnya subyektif, ketika sangat menguntunkan diri kita, maka akan beranggapan adil. Sebaliknya jika menurut kita banyak merugikan, maka kita anggap ini kurang adil. Pastinya ini sebuah sindrom negatif kebanyakan orang. Ini sudha ada sejak lama dan bahkan mungkin makin berkembang di lingkungan kita.

Kita selalu menilai diri orang baik, santun dan tidak bersalah, sehingga memberikan petuah disana sini. Lupa diri, bahwa apa yang diajarkan kepada orang lain, ternyata tidak dapat diterapkan dalam kehidupan pribadi.Sudah banyak contohnya terkini, dimana kita menyaksikan betapa orang yang selama ini menjadi tokoh masyarakat, bahkan dijadikan panutan jutaan orang, ternyata terlibat hal hal yang sangat memalukan. Rasanya tidak ingin kita mempercayai, tapi kalau memang sudah terbukti, mau apa lagi?

Karena itu sangat penting,kita mawas diri,agar jangan mengikuti langkah langkah yang keliru,agar jangan sampai menjadi manusia yang munafik.

Karena itu, perlu kita mengubah cara berpikir, yakni, mengapa bukan kita yang:

  1. Mencoba memahami
  2. Memberikan perhatian
  3. Melayani orang lain
  4. Mulai memaafkan
  5. Mulai mendengarkan
  6. Terlebih dulu minta maaf
  7. Mulai mendengarkan
  8. Lebih menghargai orang lain

Hal yang paling berat dalam hidup ini,bukanlah dalam upaya mengalahkan orang lain, tapi justru mengalahkan diri sendiri. Karena didalam diri kita ada banyak lawan lawan tangguh,yang tidak mudah dikalahkan. Yakni : egoisme, rasa malas, fanatisme yang berlebih, sikap ujub, sebuah keserakahan, dan kemarahan. Bertarung melawan diri sendiri tidak mengenal waktu, seperti kata pribahasa :”Belajar dari sejak buaian, hingga keliang lahat” Belajar disini bukanlah semata dalam hal menuntut ilmu pengetahuan, melainkan sekaligus menuntut ilmu kehidupan.

Bertarung melawan diri sendiri, memberikan kita kesadaran diri untuk selalu berpacu memperkuat sikap mental untuk dapat menghadirkan dalam diri kita : rasa percaya diri yang tinggi dan tekad untuk tidak pernah menyerah. Sesungguhnya kemenangan yang sejati, adalah ketika orang sudah mampu mengalahkan dirinya sendiri.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY